Senin, 30 April 2012

Landasan Sosiologi Pendidikan


LANDASAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN









DOSEN          : PROF.Dr.SAHAT SIAGIAN, M.Pd
Dr. MURSYID, M.Pd




Oleh :
WILDAN DEPARI HASIBUAN











TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2012


Kata Pengantar
Kesungguhan dalam melakukan hal-hal yang baik akan menghadiahkan yang baik pula. Demikian juga penyelesaian makalah ini dapat terlaksana karena dilandasi niat baik dan penyertaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga nantinya dapat berguna bagi siapapun yang menyimak isi dari makalah ini.
Makalah ini disusun oleh kelompok     untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Landasan Ilmiah Ilmu Pendidikan pada program studi Teknologi Pendidikan Pascasarjana-UNIMED, dengan judul Landasan Sosiologi Pendidikan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dalam upaya penyempurnaan makalah ini dari berbagai pihak terutama Bapak Dosen Pengampuh mata kuliah ini serta saudara-saudari mahasiswa semester 2 Prodi TP-Pascasarjana-Unimed.

           
Medan,    April  2012
Penyusun


Kelompok






Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar
Isi
BAB I
. PENDAHULAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Landasan Sosiologi
B. Sejarah Sosiologi Pendidikan
C. Landasan Sosiologi Pendidikan
D. Ruang Lingkup Dan Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan
E. Masyarakat Indonesia Sebagai Landasan Sosiologis  Sistem Pendidikan Nasional
BAB III –PENUTUP
Daftar Pustaka




BAB I
PENDAHULAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk hidup yang diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan panca indera dalam hidupnya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya. Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh kita sebagai manusia, tentunya harus ada sesuatu yang mengarahkan dan membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan.
Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak dini. Di lain pihak manusia juga memiliki kemampuan dan diberikan akal pikiran yang berbeda dengan makhluk yang lain. Sedangkan pendidikan itu adalah usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan manusia agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya.
Secara sosiologi, pendidikan adalah sebuah warisan budaya dari generasi ke generasi, agar kehidupan masyarakat berkelanjutan, dan identitas masyarakat itu tetap terpelihara. Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari unsur sosial budaya.
Memasuki abad ke-21 dan menyongsong milenium ketiga tentu akan terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari era globalisasi. Tak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup, berkomunikasi, berpikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia diharapkan dunia pendidikan dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak yang berlandaskan sosiologi.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menajadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.        Apa yang dimaksud dengan Sosiologi Pendidikan ?
2.        Bagaimana sejarah Sosiologi dengan Pendidikan ?
3.        Apa yang menjadi Landasan Sosiologi Pendidikan ?
4.        Bagaimana Ruang Lingkup Dan Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Landasan Sosiologi
Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa, karena pergeseran pandangan tentang masyarakat, sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kokoh. Sosiologi sebagai ilmu yang otonom dapat lahir karena terlepas dari pengaruh filsafat. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte (1798-1857) pada tahun 1839, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan positif yang memepelajari masyarakat. Sosiologi mempelajari berbagai tindakan sosial yang menjelma dalam realitas sosial. Mengingat banyaknya realitas sosial, maka lahirlah berbagai cabang sosiologi seperti sosiologi kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama, sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan, dan lain-lain.
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatnya perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.

B.       Sejarah Sosiologi Pendidikan
Ketika diangkat menjadi Presiden American Sosiological Association pada tahun 1883, Lester Frank Ward, yang berpandangan demokratis, menyampaikan pidato pengukuhan dengan menekankan bahwa sumber utama perbedaan kelas sosial dalam masyarakat Amerika adalah perbedaan dalam memiliki kesempatan, khususnya kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Orang berpendidikan lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk maju dan memiliki kehidupan yang lebih bermutu. Pendidikan dipandang sebagai faktor pembeda antara kelas-kelas sosial yang cukup merisaukan. Untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan tersebut ia mendesak pemerintahnya agar menyelenggarakan wajib belajar. Usulan itu dikabulkan, dan wajib belajar di USA berlangsung 11 tahun, sampai tamat Senior High School (Rochman Natawidjaja, et. al., 2007:  78).
Buah pikiran Ward dijadikan landasan untuk lahirnya Educational Sociology sebagai cabang ilmu yang baru dalam sosiologi pada awal abad ke-20. Ia sering dijuluki sebagai “Bapak Sosiologi Pendidikan”(Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 79). Fokus kajian Educational Sociology adalah penggunaan pendidikan sebagai alat untuk memecahkan permasalahan sosial dan sekaligus memberikan rekomendasi untuk mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri. Kelahiran cabang ilmu baru ini mendapat sambutan luas dikalangan universitas di USA. Hal itu terbukti dari adanya 14 universitas yang menyelenggarakan perkuliahan Educational Sociology, pada tahun 1914. Selanjutnya, pada tahun 1923 dibentuk organisasi professional bernama National Society for the Study of Educational Sociology dan menerbitkan Journal of educational Sociology. Pada tahun 1948, organisasi progesional yang mandiri itu bergabung ke dalam seksi pendidikan dari American Sociological Society.
Pada tahun 1928 Robert Angel mengeritik Educational Sociology dan memperkenalkan nama baru yaitu Sociology of Education dengan focus perhatian pada penelitian dan publikasi hasilnya, sehingga Sociology of Education bisa menjadi sumber data dan informasi ilmiah, serta studi akademis yang bertujuan mengembangkan teori dan ilmu sendiri.
Dengan dukungan dana penelitian yang memadai, berhembuslah angin segar dan menarik para sosiolog untuk melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Maka diubahlah nama Educational Sociology menjadi Sociology of Education dan Journal of Educational Sociology menjadi Journal of the Sociology of Education (1963). Serta seksi Educational Sociology dalam American Sociological Society pun berubah menjadi seksi Sociology of Education yang berlaku sampai sekarang. Penelitian dan publikasi hasilnya menandai kehidupan Sociology of Education sejak pasca Perang Dunia II.
Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa karena pergeseran pandangan tentang masyarakat sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kokoh. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte (1798-1857) pada tahun 1839 (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 96). Di Prancis, pelopor sosiologi pendidikan yang terkemuka adalah Durkheim (1858-1917), merupakan Guru Besar Sosiologi dan Pendidikan pada Universitas Sorbonne.
Di Jerman, Max Weber (1864-1920) menyoroti keadaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masyarakat dengan latar belakang sosial budaya serta tingkat kemajuan berbeda. Sedang di Inggris, perhatian sosiologi pada pendidikan pada awalnya kurang berkembang karena pelopor sosiologi-nya, yaitu Herbert Spencer (1820-1903) justru merupakan Darwinisme Sosial. Namun belakangan, di Inggris muncul aliran sosiologi yang memfokuskan perhatiannya akan analisis pendidikan pada level mikro, yaitu mengenai interaksi sosial yang terjadi dalam ruang belajar. Berstein, misalnya, berusaha dengan jalan menyajikan lukisan tentang kenyataan dan permasalahan yang terdapat dalam sistem persekolahan dengan tujuan agar para pengambil keputusan menentukan langkah-langkah perbaikan yang tepat. Pendekatan Berstein ini oleh Karabel dijuluki sebagai atheoretical, pragmatic, descriptive, and policy focused (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 80).
Di Indonesia, perhatian akan peran pendidikan dalam pengembangan masyarakat, dimulai sekitar tahun 1900, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Para pendukung politis etis di Negeri Belanda saat itu melihat adanya keterpurukan kehidupan orang Indonesia. Mereka mendesak agar pemerintah jajahan melakukan politik balas budi untuk memerangi ketidakadilan melalui edukasi, irigasi, dan emigrasi. Meskipun pada mulanya program pendidkan itu amat elitis, lama kelamaan meluas dan meningkat ke arah yang makin populis sampai penyelenggaraan wajib belajar dewasa ini. Pelopor pendidikan pada saat itu antara lain: Van Deventer, R.A.Kartini, dan R.Dewi Sartika.

C.      Landasan Sosiologi Pendidikan
Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya, yaitu: (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme, (3) paham integralistik.
Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya, asalkan tidak mengganggu keamanan orang lain. 
Dampak individualisme menimbulkan cara pandang yang lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri,  antara anggota masyarakat satu dengan yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat. 
Paham kolektivisme memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya.
Sedangkan paham integralistik dilandasi pemahaman bahwa masing-masing anggota masyarakat saling berhubungan erat satu sama lain secara organis merupakan masyarakat. Masyarakat integralistik menempatkan manusia tidak secara individualis melainkan dalam konteks strukturnya manusia adalah pribadi dan juga merupakan relasi. Kepentingan masyarakat secara keseluruhan diutamakan tanpa merugikan kepentingan pribadi.
Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia secara orang per orang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.
D.           Ruang Lingkup Dan Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan
Para ahli Sosiologi dan ahli Pendidikan sepakat bahwa, sesuai dengan namanya, Sosiologi Pendidikan atau Sociology of Education (juga Educational Sociology) adalah cabang ilmu Sosiologi, yang pengkajiannya diperlukan oleh professional dibidang pendidikan (calon guru, para guru, dan pemikir pendidikan) dan para mahasisiwa serta professional sosiologi.
Mengenai ruang lingkup Sosiologi Pendidikan, Brookover mengemukakan adanya empat pokok bahasan berikut: (1) Hubungan sistem pendidikan dengan sistem social lain, (2) Hubungan sekolah dengan komunitas sekitar, (3) Hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan, (4) Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 81). 
Sosiologi Pendidikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi mengenai bagaimana harapan dan tuntutan masyarakat mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana sebaiknya pendidikan itu berlangsung menurut kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional maupun lokal.
Sosiologi Pendidikan secara operasional dapat defenisi sebagai cabang sosiologi yang memusatkan perhatian pada mempelajari hubungan antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, antara unit pendidikan dengan komunitas sekitar, interaksi social antara orang-orang dalam satu unit pendidikan, dan dampak pendidikan pada kehidupan peserta didik  (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 82).
Sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, Sosiologi Pendidikan dituntut melakukan tiga fungsi pokok.
Pertama, fungsi eksplanasi, yaitu menjelaskan atau memberikan pemahaman tentang fenomena yang termasuk ke dalam ruang lingkup pembahasannya. Untuk diperlukan konsep-konsep, proposisi-proposisi mulai dari yang bercorak generalisasi empirik sampai dalil dan hukum-hukum yang mantap, data dan informasi mengenai hasil penelitian lapangan yang actual, baik dari lingkungan sendiri maupun dari lingkungan lain, serta informasi tentang masalah dan tantangan yang dihadapi. Dengan informasi yang lengkap dan akurat, komunikan akan memperoleh pemahaman dan wawasan yang baik dan akan dapat menafsirkan fenomena-fenomena yang dihadapi secara akurat. Penjelasan-penjelasan itu bisa disampaikan melalui berbagai media komunikasi.
Kedua, fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi dan permasalahan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang. Sejalan dengan  itu, tuntutan masyarakat akan berubah dan berkembang akibat bekerjanya faktor-faktor internal dan eksternal yang masuk ke dalam masyarakat melalui berbagai media komunikasi. Fungsi prediksi ini amat diperlukan dalam perencanaan pengembangan pendidikan guna mengantisipasi kondisi dan tantangan baru.
Ketiga, fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat seperti masalah lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan pendidikan sendiri.
Jadi, secara umum Sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena siosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat.
Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan pranata kehidupan lain.

E.            Masyarakat Indonesia Sebagai Landasan Sosiologis  Sistem Pendidikan Nasional
Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka memiliki hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama.
Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun dalam arti sempit. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak misalnya masyarakat bangsa, sedang dalam arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku.
Masyarakat  sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama, antara lain: (1) ada interaksi antara warga-warganya, (2)  pola tingkah laku warganya diatur oleh adapt istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan khas, (3) ada rasa identitas kuat yang mengikat para warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat- istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 100).
Masyarakat Indonesia mempnyai perjalanan sejarah yang panjang. Dari dulu hingga kini, ciri yang menonjol dari masyarakat Indonesia adalah sebagai masyarakat majemuk yang tersebar di ribuan pulau di nusantara. Melalui perjalanan panjang, masyarakat yang bhineka tersebut akhirnya mencapai satu kesatuan politik untuk mendirikan satu negara serta berusaha mewujudkan satu masyarakat Indonesia sebagaiu masyarakat yang bhinneka tunggal ika.
Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih ditandai oleh dua ciri yang unik, yakni (1) secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan social atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan kedaerahan, dan (2) secara vertical ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan lapisan bawah.
Pada zaman penjajahan, sifat dasar masyarakat Indonesia yang menonjol adalah (1) terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok social atau golongan social jajahan yang seringkali memiliki sub-kebudayaan sendiri, (2) memiliki struktur social yang terbagi-bagi, (3) seringkali anggota masyarakat atau kelompok tidak mengembangkan consensus di antara mereka terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar, (4) diantara kelompok relative seringkali mengalami konflik, (5) terdapat saling ketergantungan di bidang ekonomi, (6) adanya dominasi politiuk oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok social yang lain, dan (7) secara relative integrasi social sukar dapat tumbuh (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/70).
Masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, utamanya pada zaman pemerintahan Orde Baru, telah banyak mengalami perubahan. Sebagai masyarakat majemuk, maka komunitas dengan ciri-ciri unik, baik secara horizontal maupun secara vertical, masih dapat ditemukan, demikian pula halnya dengan sifat-sifat dasar dari zaman penjajahan belum terhapus seluruhnya.
 Namun niat politik yang kuat menjadi suatu masyarakat bangsa Indonesia serta kemajuan dalam berbagai bidang pembangunan, maka sisi ketunggalan dari “bhinneka tunggal ika” makin mencuat. Berbagai upaya dilakukan, baik melalui kegiatan jalur sekolah maupun jalur luar sekolah, telah menumbuhkan benih-benih persatuan dan kesatuan yang semakin kokoh.
Berbagai upaya telah dilakukan dengan tidak mengabaikan kenyataan tentang kemajemukan masyarakat Indonesia. Hal terakhir tersebut kini makin mendapat perhatian yang semestinya dengan antara lain dimasukkannya muatan lokal (mulok) di dalam kurikulum sekolah.
Perlu ditegaskan bahwa muatan local di dalam kurikulum tidak dimaksudkan sebagai upaya membentuk “manusia lokal”, akan tetapi haruslah dirancang dan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan “manusia Indonesia” di suatu lokal tertentu. Dengan demikian akan dapat diwujudkan manusia Indonesia dengan wawasan nusantara dan berjiwa nasional akan tetapi yang memahami dan menyatu dengan lingkungan (alam, sosial, dan budaya) de sekitarnya.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Simpulan Dari hasil hasil pembahasan yang telah disajikan pada bab II, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. sosiologi merupakan ilmu yang membahas atau mempelajari interaksi dan pergaulan antara manusia dalam kelompok dan struktur sosial.
  2. sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan dan interaksi manusia, baik itu individu atau kelompok dengan peresekolahan sehingga terjalin kerja sama yang sinergi dan berkesinambungan antara manusia dengan pendidikan.













Minggu, 01 April 2012

ANALISIS KOMPONEN KURIKULUM OLAHRAGA


BAB I
PENDAHULUAN

Istilah Kurikulum Pada mulanya digunakan pada dunia olahraga pada zaman yunani kuno, kurikulum adalah berasal dari dari curir artinya pelajari dan curere artinya tempat berpacu. Curriculum artinya jarak yang harus ditempu oleh pelari. Mengandung makna yang terkandung pada rumusan diatas. Defenisi kurikulum dalam pendidikan adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempu atau diselesaikan oleh peserta didik untuk memperoleh Ijajah.
Rumusan dan batasan kurikulum itulah yang pertama kali digunakan dalam bidang pendidikan. Atas batasan itu pula sebagian besar para praktisi pendidikan asampai saat ini memamndang bahwa kurikulum tidak lain sejumlah pelajaran yang diajarkan disekolah – sekolah. Memperhatikan batasan kurikulum diatas tersirat dua hal pokok.
1.      Isis kurikulum yang memuat sejmlah mata pelajaran.
2.      Tujuan kurikulum yaitu : untuk menguasai sejumlah mata pelajaran.

Pendidikan mempunyai peranan penting di seluruh aspek kehidupan manusia. Hal itu disebabkan karena pendidikan berpengaruh langsung terhadap perkembangan kepribadian manusia. Kalau bidang-bidang lain seperti ekonomi, pertanian, arsitektur dan lain sebagainya berperan menciptakan sarama dam prasarana bagi kepentingan  manusia, pendidikan berkaitan langsung dengan pembentukan karakter manusia. Pendidikan menentukan model manusia yang akan dihasilkannya.
Perwujudan masyarakat yang berkualitas menjadi tanggung jawab pendidikan terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan professional pada bidangnya masing-masing. Hal tersebut diperlukan terutama untuk mengantisipasi era globalisasi, khususnya globalisasi pasar bebas di lingkungan Negara-negara ASEAN dan ASIA seperti AFTA, ACFTAdan lain-lain. Oleh karena itu pendidikan memerlukan sendi-sendi yang kuat dan pengaturan yang baik agar tujuan pendidikan nasional untuk membentuk karakter anak bangsa tercapai. Kurikulum merupakan salah satu sendi tersebut.
Menurut Tanner dan Tanner (dalam Miller dan Seller, 1985), kurikulum adalah rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman secara sistematis yang dikembangkan di lingkungan sekolah (univesitas) untuk memampukan siswa mencapai kontrol atas pengetahuan dan pengalamannya. Sedangkan dalam arti luas, kurikulum diartikan sebagai segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Ada pula yang mengartikan kurikulum sebagai interaksi antara guru dan siswa yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan yang spesifik.
Berdasarkan sejumlah pengertian tentang kurikulum di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum memuat tentang bagaimana cara mengelola hubungan guru-siswa agar tujuan pendidikan tercapai. Untuk itu diperlukan adanya 4 komponen kurikulum yaitu tujuan, organisasi materi, proses belajar-mengajar, dan evaluasi.
Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas maka kurikulum yang diterapkan perlu untuk dikembangkan. Agar suatu kurikulum dapat dikembangkan maka perlu terlebih dahulu untuk dianalisis. Hal yang perlu dianalisis pertama kali adalah komponen-komponen kurikulum itu sendiri, apakah sudah seiring sejalan dan mendukung atau sebaliknya. untuk tujuan itulah maka makalah ini ditulis oleh penulis.
Makalah ini merupakan hasil analisis penulis terhadap komponen kurikulum yang berlaku di Fakultas Psikologi USU, institusi dimana penulis bekerja. Teori yang digunakan untuk landasan analisa adalah teori posisi.
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Teori Posisi
Berdasarkan orientasinya, posisi kurikulum dapat dibedakan menjadi 3 yaitu transmisi, transaksi dan transformasi.
1.      Posisi Transmisi
Dalam posisi transmisi, fungsi pendidikan adalah untuk mentransmisikan fakta, keterampilan dan nilai-nilai kepada siswa. secara spesifik, orientasi ini menekankan pada pendalaman mata pelajaran sekolah tradisional melalui metodologi pengajaran tradisional dan belajar melalui buku teks. Pemerolehan keterampilan dasar siswa dan nilai-nilai budaya tertentu dikembangkan melalui strategi pembelajaran khusus. Dalam posisi ini, proses komunikasi bersifat satu arah dimana materi diberikan dari guru kepada siswa.
Posisi ini berhubungan dengan metode belajar menghapal. Akar filosofisnya adalah positivism logis yang berfokus pada pemecahan bahasa kedalam komponen-komponen yang dapat dianalisis dan diverifikasi.
Dasar psikologis dari posisi transmisi adalah psikologi perilaku khususnya Thorndike dan Skinner yang menekankan pada pemecahan masalah aktivitas manusia kedalam respon-respon spesifik yang dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol perilaku manusia.
Secara social, posisi transmisi dapat dihubungkan dengan berbagai bentuk filosofi politik konservatif yang menyukai nilai-nilai tradisional.
2.      Posisi Transaksi
Dalam posisi transaksi, individu dipandang sebagai sosok yang rasional dan mampu memecahkan masalah secara cerdas. Pendidikan dipandang sebagai dialog antara siswa dan kurikulum dimana siswa merekonstruksi pengetahuan-pengetahuannya melalui proses dialog. Elemen sentral dalam posisi transaksi adalah penekanan pada strategi kurikulum yang memfasilitasi pemecahan masalah, aplikasi keterampilan pemecahan masalah dalam konteks social, dan perkembangan keterampilan kognitif dalam disiplin akademis.
Paradigm filosofis posisi transaksi adalah metode ilmiah. Sedangkan akar filosofisnya adalah pragmatismenya John Dewey. Posisi transaski ini juga memiliki akar psikologis dalam teori-teori perkembangan kognitif Piaget dan Kohlberg.

3.      Posisi Transformasi
Metaorientasi transformasi berfokus pada perubahan personal dan social. Posisi ini meliputi 3 orientasi spesifik yaitu keterampilan mengajar untuk mempromosikan transformasi personal dan social, visi perubahan social sebagai pergerakan menuju harmoni dengan lingkungan, dan  atribusi dimensi spiritual terhadap lingkungan dimana sistem ekologis dihormati.
Paradigm posisi transformasi adalah konsepsi saling ketergantungan secara ekologis yang menekankan pada fenomena yang saling berhubungan. Siswa dan kurikulum dipandang sebagai sesuatu yang saling mempenetrasi dalam perilaku holistic.
Akar filosofis posisi trasnformasi adalah transendentalisme, mistisime dan sejumlah bentuk eksistensialisme. Posisi ini merepresentasikan filosofi perennial yang menganggap bahwa semua fenomena merupakan bagian dari keseluruha yang saling berhubungan.
Akar psikologis dari posisi trasnformasi adalah psikologi humanistis dan transpersonal yang menekankan pada pemenuhan ego dan level spiritual.




B.     Kurikulum Pendidikan Olahraga
Terlampir

C.      Analisa Komponen Kurikulum Berdasar Teori Posisi
No
Komponen
Kurikulum Pendidikan Olahraga
Posisi
Keterangan
1.
Tujuan
TIU:
Siswa diharapkan :
a.       memperoleh pemahaman tentang ilmu olahraga, ruang lingkup kajian  ilmu olahraga dan kaitan olahraga dengan ilmu lain;
b.      mengenal dan memahami sejarah Perkembangan ilmu olahraga  beserta tokoh-tokohnya;
c.       mendapatkan pemahaman tentang bidang-bidang kajian dalam ilmu olahraga (perkembangan, klinis, industri dan organisasi dan  pendidikan)


Transmisi


Transfer of learning terjadi satu arah dari guru/kurikulum ke siswa
2.
Organisasi Materi
a.       Definisi olahraga
b.      Sejarah perkembangan olahrag
c.       Area dalam ilmu olahraga
d.      Berbagai sudut pandang (aliran) para ilmuan olahraga
e.       Dasar-dasar biologis perilaku
f.        Persepsi
g.       Kesadaran manusia
h.      Kepribadian manusia
i.         Olahraga Terafi
j.         olahraga dan dunia kerja
k.       olahraga sebagai  pendidikan

Transmisi
Focus orientasi kepada materi, bukan kepada proses berpikir/pemecahan masalah dan perasaan siswa
3.
Proses belajar
Metode pembelajaran :
·         Diskusi
·         Demonstarsi
Transaksi
Metode pembelajaran menstimulasi siswa untuk menggali dan menyelidiki materi secara langsung dan guru berperan sebagai fasilitator yang merangsang siswa untuk menggali lebih dalam materi secara individual.
4.
Evaluasi
·         Kontribusi siswa (10%)
·         Tugas  Demonstrasi (10%)
Transaksi
Memandang bahwa siswa bukan sosok yang pasif yang hanya sekadar menerima materi namun juga mampu berpikir sehingga dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa ada ketidakselarasan posisi antar komponen kurikulum yang diterapkan pada mata pelajaran Olahraga. terdapat dua orientasi dalam kurikulum di atas yaitu transmisi dan transaksi. Tujuan dan pengorganisasian materi berorientasi pada transmisi yang berarti bahwa focus pembelajaran lebih kepada pendalaman matapelajaran melalui metodologi pengajaran tradisional dan belajar melalui buku teks. Namun pada saat proses pembelajaran dilaksanakan, metode yang diterapkan berorientasi pada transaksi dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan diberi kesempatan untuk dapat menganalisis dan memecahkan persoalan yang ada melalui kasus pada saat demontrasi. Padahal bila selaras dengan tujuan dan organisasi materi maka seharus metode pembelajaran berupa ceramah dan demontstarsi dimana komunikasi hanya satu arah dari guru kepada siswa. Begitu pula dengan bentuk evaluasi yang diberikan yang berorientasi pada transaksi dimana keterlibatan dan partisipasi siswa turut diperhatikan dan dievaluasi. Padahal bila selaras dengan orientasi pada komponen tujuan dan pengorganisasian materi, penilaian hanya dilihat dari hasil tes belajar di tengah dan akhir semester tanpa mempertimbangkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.
























BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa di BAB II maka dapat disimpulkan bahwa ada ketidakselarasan posisi antar komponen kurikulum yang diterapkan pada mata pelajaran olahraga. kurikulum tersebut memiliki dua orientasi yaitu transaksi dan transmisi. Komponen tujuan dan pengorganisasian materi berorientasi pada transmisi sedangkan proses belajar mengajar dan evaluasi berorientasi pada transaksi.

B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka perlu kiranya dilakukan perbaikan kurikulum pada mata pelajaran olahraga agar posisi kurikulumnya selaras sehingga tujuan pendidikan mata pelajaran ini dapat tercapai secara optimal.













DAFTAR PUSTAKA

Miller, J.P., Seller, W. Curriculum : Perspective and Practice. 1985. New York : Longman Inc
Kurikulum Berbasis Kopetensi Tingkat SMP